Aceh Besar – Penguatan budaya literasi menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan Masa Ta’aruf Murid Baru (Matamuda) MAN 1 Aceh Besar Tahun Pelajaran 2026/2027. Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Kepala MAN 1 Aceh Besar, Arjuna, S.Pd., M.Pd., pada Senin (13/7/2026) ini bertujuan membekali peserta didik baru dengan karakter, wawasan, dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan pendidikan di era digital.
Sebagai salah satu narasumber, Penggiat Literasi Nasional sekaligus guru MAN 1 Aceh Besar, Ansar Salihin, S.Sn., M.Sn., menyampaikan materi bertajuk “Literasi untuk Pembelajar Sepanjang Hayat”. Materi tersebut dirancang untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam membangun kebiasaan belajar, berpikir kritis, dan menghasilkan karya.
Dalam pemaparannya, Ansar menjelaskan bahwa literasi tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi merupakan kemampuan memahami, mengolah, mengevaluasi, dan mengomunikasikan informasi secara tepat, sehingga seseorang mampu mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga memperkenalkan tiga bentuk literasi yang sangat dibutuhkan generasi saat ini, yaitu literasi dasar, literasi digital, dan literasi media. Menurutnya, peserta didik harus memiliki kemampuan memilah informasi yang benar, mengenali berita bohong (hoaks), memahami etika bermedia sosial, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan berkarya, bukan sekadar hiburan.
Ansar menegaskan bahwa derasnya arus informasi di era digital menuntut setiap pelajar memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah percaya terhadap setiap informasi yang diterima. Budaya membaca, berdiskusi, serta menulis menjadi keterampilan penting yang harus dibangun sejak dini agar peserta didik mampu menjadi pembelajar yang mandiri dan adaptif.
“Literasi adalah kemampuan menerima, mengolah, dan menyampaikan informasi secara cerdas dan bertanggung jawab. Apa yang kita baca, lihat, dan konsumsi setiap hari akan membentuk cara berpikir, karakter, bahkan masa depan kita. Jika kita membiasakan diri mengonsumsi buku, ilmu pengetahuan, dan informasi yang berkualitas, maka yang lahir adalah gagasan, karya, dan prestasi. Sebaliknya, jika waktu kita lebih banyak dihabiskan untuk konten yang tidak bermanfaat, maka itulah yang akan membentuk diri kita. Karena itu, jadilah pembelajar sepanjang hayat melalui budaya literasi,” ujar Ansar.
Ia juga mengajak peserta didik untuk menjadikan perpustakaan, buku, dan berbagai sumber belajar yang kredibel sebagai sahabat dalam proses menuntut ilmu. Menurutnya, kebiasaan membaca secara konsisten akan memperluas wawasan, meningkatkan kreativitas, serta membentuk karakter yang tangguh dalam menghadapi perubahan zaman.
Melalui materi penguatan literasi tersebut, peserta didik baru diharapkan mampu membangun budaya belajar yang positif sejak awal memasuki madrasah. Dengan bekal literasi yang baik, mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis, kreatif, berakhlak mulia, serta mampu memanfaatkan teknologi dan informasi secara bertanggung jawab demi masa depan yang lebih baik.
