WhatsApp Image 2023-04-08 at 10.39.12 (1)
Resensi Buku: Mengungkap Makna Filosofis Ragam Hias Aceh Dataran Tinggi

Oleh Fatin Nabila

Keua OSIM Siswa MAN 1 Aceh Besar

Judul: Ragam Hias Aceh Dataran Tinggi (Kerawang Gayo & Mesikhat Alas)
Penulis: Ansar Salihin, S.Sn., M.Sn. & Saniman Andikafri, S.Sn., M.Sn.
Editor: Dr. Salman Yoga S., S.Ag., MA. & Samsul Bahri, S.Pd.
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh
Tahun Terbit: 2022
ISBN: 978-623-88208-3-2
Tebal: VI + 172 halaman
Ukuran: 15,5 cm x 23 cm

Buku Ragam Hias Aceh Dataran Tinggi Kerawang Gayo & Mesikhat Alas adalah karya dokumentasi budaya, terutama bagi masyarakat Gayo dan Alas di Provinsi Aceh. Dari isi buku ini, penulis mencoba mendokumentasikan artefak budaya berupa ragam hias atau ornamen di dataran tinggi Aceh yaitu Gayo dan Alas. Ragam hias tersebut sudah mulai ditinggalkan dan tidak diketahui lagi oleh generasi muda terpengaruh oleh arus modernisasi. Melalui buku ini, ragam hias kembali diperkenalkan kepada masyarkat baik bentuk fisik maupun nilai-nilai yang terkandng setiap bentuk raga hiasnya.

Buku ini terdiri dari dua pokok bahasan utama, bagian pertama membahas tentang ragam hias kerawang Gayo yang terdiri dari 3 daerah yaitu kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Kemudian bagian kedua membahas tentang ragam hias Mesikhat Alas dari daerah Kabupaten Aceh Tenggara. Adapun isinya pada setiap pokok bahasan, ragam hias kerawang Gayo membahas tentang sejarah masyarakat Gayo, perjalanan berbagai kerajaan di Gayo, ragam hias pada rumah adat Gayo atau umah pitu ruang, ragam hias pada pakaian adat Gayo dan makna filosofis ragam hias kerawang Gayo pada setiap motifnya. Sementara ragam hias mesikhat Alas membahas tentang, gambaran umum tanah Alas dan Kabupaten Aceh Tenggara, ragam hias mesukhat Alas, ragam hias pada rumah adat Alas, ragam hias pada pakaian adat Alas dan makna filosofi ragam hias mesikhat Alas.

Kekuatan utama buku ini adalah kelengkapan dokumentasi ragam hias pada rumah adat dan pakaian adat (halaman 16-45) menampilkan detail motif ukiran pada setiap bidang rumah adat Gayo dan detail ragam hias pada pakaian adat Gayo. Kemudian dilengkapi dengan tabel klasifikasi motif yaitu nama motif dalam bahasa derah dan bahasa Indonesia serta letak setiap motif tersebut. Misalnya di halaman 36 ragam hias rumah adat Gayo Reje Baluntara “Motif emun berangkat (awan berarak) terletak pada bagian dinding depan, samping, tangga dan tiang rumah adat Gayo”. Pengambilan gambar sangat detail setiap motif, sehingga gambar ini bisa menjadi media pembelajaran, repreduksi desain dan vektor grafis.

Penulis tidak hanya mendokumentasikan bentuk visual motif ragam hias, tetapi juga memberikan signifikansinya dalam makna filosofis yenga berkaitan dengan kehidupan masyarakat tersebut. Menariknya lagi setiap bentuk motif dijelaskan secara deskriptif dengan jelas, setiap motif memiliki falsafah yang disebut peri pestike (kata-kata mutiara/falsafah) dan maknanya dikaitkan dengan kehidupan masyarakat. Misalnya (halaman 49-52) “Motif emun berangkat (awan berarak) adalah motif yang bersumber dari bentuk gerakan awan yang berarak ditiup angin. Bentunya lingkaran memusat, bersambung secara berulang. Seperti pepatah Gayo “beloh sara loloten mewen sara tamunen” memiliki makna selalu bergandengan, bahu membahu akan semakin mudah mencapai suatu tujuan bersama. Masyarakat Gayo dalam hidup selalu mengutamakan tolong menolong”.

Banyak hal yang dapat diapresiasi dari buku ini, upaya penyatuan aspek akademis dan artistik telah berhasil diselesaikan. Bahasa yang digunakan bisa dipahami, walaupun ada beberapa istilah yang bersumber dari bahasa lokal Gayo masih di pertahankan, mungkin perlu menyesuaikan dengan bahasa Gayo. Secara gambaran, tata letak yang digunakan dan ilustrasi membantu dalam memahami secara visual isi yang disampaikan pada setiap bab. Namun, beberapa bagian dari buku masih terasa cukup padat akan bahasa Gayo, yang kemudian mengharuskan pembaca awal untuk bisa memahami dan mencernanya lebih lama melalui terjemahannya. Meskipun demikian, bukan berarti buku ini kehilangan relevansinya sebagai referensi pengetahuan bagi pelajar yang ingin mempelajari ragam hias dan budaya Gayo dan Alas.

Buku Ragam Hias Aceh Dataran Tinggi Kerawang Gayo & Mesikhat Alas adalah kaya informasi dan mengandung makna. Buku ini ditujukan untuk mendokumentasikan ragam hias tradisional dan pengenalan budaya lokal kepada generasi muda dan menjadi inspirasi nilai lokal daerah Gayo dan Alas. Penjelasan ragam hias dalam buku ini sangat lengkap mulai dari penjelasan bentuk, makna filosofis dan nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Buku ini boleh dibaca siapa pun baik siswa, mahasiswa dan umum yang ingin mengenal ragam hias kerawang Gayo dan mesikhat Alas. Selain itu, dokumentasi ragam hias pada buku tersebut juga dapat menjadi rujukan dalam pengembangan desain ragam hias/ornamen moder seperti kerajinan, hiasan bangunan dan fashion yang sedang berkembang saat ini.

Resensi tersebut mendapat juara III Lomba Rerensi Buku Koleksi Perpustakaan yang dilekasanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten ACeh Besar Tahun 2025

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait